Selasa, 03 Desember 2013

Resensi Novel MENTARI IMPIAN

Makasih Helda Fera Puspita, udah ngereview novel ini ya :) *peyuuuk :)


Judul                        : Mentari Impian (Teen Hijabers Community)
Penulis                     : Ichen ZR
Penerbit                  : DAR! Mizan
Jumlah Halaman   : 153 halaman


Dewi “Ichen” Cendika mengawali debutnya sebagai penulis buku anak. Reputasinya sudah tidak diragukan lagi, dibuktikan dengan terbitnya 40 buku, serta 50 lebih tulisannya masuk dalam kumpulan cerita pendek remaja, majalah anak maupun remaja. Namun, buku Mentari impian ini adalah serial pertama untuk segmen belia.

“Rasanya menakjubkan, ada perbedaannya ya, kalau cerita anak, ada dunia anak-anak yang penuh kepolosan. Tapi dunia novel belia, ada antusias, semangat dan rasa ingin tahu yang lebih lagi.” begitu tutur sang penulis ketika saya sempat berbincang-bincang dengannya beberapa waktu lalu. Saat itu kami sedang memperbincangkan hal yang berkaitan dengan proses kreatif pembuatan naskah serial Mentari Impian.

Mentari Impian mengisahkan tentang seorang gadis yang menginjak remaja, kisah kasih di sekolah, persahabatan serta impian-impiannya. Misteri serta kejutan-kejutan yang datang silih berganti mewarnai kisah kehidupannya.
“ Alhamdulillah, cerpenku dimuat!” seru Pasha, girang bukan main. Diciumnya berulang kali majalah yang ada di tangannya. Air mata berjatuhan, mengaliri pipi-pipi gembilnya. (hal. 15)

Mungkin hal yang sama, yang akan saya lakukan apabila cerpen atau karya saya dimuat di media. Begitu pula dengan Pasha, ia adalah seorang gadis belia yang penuh mimpi, impiannya adalah menjadi seorang penulis terkenal, terinspirasi dari kakak sepupunya, Laura.

Namun sayang, oma serta papa tercinta sangat tidak setuju atas keinginan Pasha tersebut, tentu saja hal ini membuat Pasha bingung, kenapa ia dilarang keras untuk bermimpi menjadi seorang penulis?.
Terlebih ada banyak kejanggalan yang ia temui di rumah. Pertama, ia tidak boleh sembarangan masuk ke kamar papa, kedua ia dilarang masuk ke gudang yang berada di loteng, yang justru dari sinilah awal dari kecurigaannya sedikit demi sedikit terkuak.

Misteri tentang keberadaan sang mama, memberikan nuansa tersendiri dalam buku ini. Terus terang saya sempat tak kuasa untuk menitikkan air mata saat mengetahui bahwa mama Pasha sebenarnya….(lebih baik baca sendiri deh, kalau tidak mau melewatkan momen berurai air mata ini). Dilengkapi kisah persahabatan dengan keempat sahabatnya, ada saat emosi pembaca dibuat naik turun.
Tidak hanya dari oma dan papanya saja, halangan dan rintangan pun didapatnya dari teman sekolahnya, si Miss Oh Bete. Karakter ini yang menjadi sorotan saya, karakter antagonis ini sangat kejam di mata saya, si pembuat onar, pembangkang, bahkan menghalalkan segala cara agar keinginannya terwujud.

Mungkin sedikit saran, apabila pencitraan tokoh/karakter antagonis dibuat sedikit lebih ramah atau tidak melulu bertentangan dengan karakter utama. Namun ada masa khilaf di mana perbuatannya tidak dapat ditolerir lagi, sehingga tokoh utama berusaha menyadarkan agar ia dapat secara sportif bersaing dan lain sebagainya, sehingga menjadi bahan pelajaran tersendiri bagi para pembaca.

Secara keseluruhan, buku ini manis khas romantika remaja, pemilihan kalimat dialog yang menggunakan kalimat-kalimat khas gaya remaja masa kini membuat serial ini semakin menggemaskan. Ditunjang dengan ilustrasi yang cantik serta layout warna yang eye cathing.

Tidak lupa pada akhir cerita, sang penulis menyisipkan pesan pembakar semangat, khusus untuk para penulis pemula yang sedang berusaha meraih cita-cita dan impiannya menjadi seorang penulis profesional. Dari pesan ini, ada hikmah serta luapan semangat tersendiri bagi saya sebagai pembaca buku ini.

“ Terus menulis, jangan patah semangat, seperti kerlip bintang di langit yang selalu memberikan semangat, harapan dan kesenangan bila kita memandangnya,” (hal. 153

Senin, 25 November 2013

REVIEW PELANGI DUA HATI

Yay...makasih Heldaaa Fera Puspita  untuk Review Novel Pelangi Dua Hati ini :)  


Judul Buku : Pelangi Dua Hati
Penulis : Dewi Cendika
Penerbit : DAR! Mizan
Cetakan : I, Juni 2013
Tebal Buku : 162 halaman
ISBN : 978-602-242-208-2
Apa jadinya, jika tiba-tiba saja kehidupan kita berubah 180 derajat? Dalam waktu singkat, dan tidak kita duga sama sekali. Kaget, kesal, tidak terima dan seribu satu perasaan bercampur aduk. Itulah yang terjadi pada Selena. Seorang gadis cantik, kaya, pintar namun memiliki karakter bossy di mata teman-temannya.
Ia kerap dijuluki Nona serba telunjuk karena kebiasaannya memberi perintah pada siapa saja. Hingga, ketika sebuah tragedi terjadi dalam keluarganya, menjadi mimpi buruk bagi Selena. Seketika itu pula kehidupannya berubah 180 derajat.  Ia tak tahu lagi, mana kawan mana lawan. Semua begitu berubah secara tiba-tiba.
Namun tidak selamanya mimpi buruk itu berakhir dengan sesuatu yang buruk pula. Pertemuan dengan seseorang yang istimewa membuat warna-warni hidup Selena seindah pelangi yang muncul setelah hujan. Persahabatan, romantika remaja, persaingan serta pencarian jati diri disajikan secara manis tanpa maksud menggurui, namun sangat mengena.
Di sinilah sudut pandang bijaksana dari sang penulis menceritakan lika-liku perjalanan Selena sebagai seorang gadis remaja yang sedang berada pada tahap pencarian jati diri. Kisah kehidupan Selena sebagai remaja, begitu dekat dengan realita kehidupan remaja kita dewasa ini. Banyak pesan positif yang dapat diambil dari sebuah drama kehidupan di novel ini. Mudah-mudahan saja, pesan indah yang tersirat dalam novel ini dapat dimaknai positif oleh pembacanya.
Mau tahu cerita lengkap warna-warni pelangi dalam hidup Selena? Apa tragedi keluarganya yang membuat hidup Selena berubah? Siapa sosok istimewa yang membawa cerah warna-warni di hati Selena? Bagaimana kelanjutan kisah persahabatan, romantika, serta pencarian jati diri Selena? Semua jawaban itu, ada dalam novel yang berjudul “Pelangi Dua Hati” yang ditulis oleh Dewi Cendika. Kebetulan, saya juga mendapat buku edisi tandatangan dari Mbak Dewi juga loh ^^
IMG_20131125_010640

Sabtu, 04 Mei 2013

Rahasia Awet Muda Dan Cantik Dari SariAyu




Seringkali,  setiap melihat  selebriti di televisi  atau foto model di majalah, saya suka berdecak kagum.  “Cantiknya!” atau “Awet mudanya!”  berulang kali terlontar dari mulut Saya yang diam-diam merasa super jealous. Lalu, Saya buru-buru menghampiri cermin di kamar Saya yang tingginya satu meter, dan mematut wajah Saya.  Oh no!  Saya juga ingin cantik!

foto dari http://dhiaadawiyah.blogspot.com/2011_12_01_archive.html

Dan beruntungnya Saya akhirnya Saya mendapatkan rahasia awet muda dari SariAyu, dalam acara Workshop Be Smart Blogger yang diselenggarakan oleh Majalah Noor.  Mbak Dewi Theresa dari Sari Ayu mau berbagi rahasia ini pada Saya dan teman-teman workshop.


Penasaran?  Ini dia rahasia awet muda dari SariAyu :
 1. Jangan malas melakukan perawatan muka, dimulai dari membersihkan seputar mata,  bersihkan muka dengan  krim pembersih mawar, memakai scrub untuk wajah (2 minggu sekali) dan dilanjutkan dengan krim urut.
 2.  Laluu...ini ini dia titik rahasianya, yaitu dengan memakai krim urut!  Dan.. kita lakukan pijat acupressure / totok wajah :
Ø  Tekan satu titik di dahi bagian bawah di antara mata (8 hitungan)
Ø  Pijat pelan pelipis (8 hitungan)
Ø  Tekan pelan bagian pangkal telinga (8 hitungan)
Ø  Tekan pelan bagian bawah dagu (8 hitungan)
   3.   Setelah itu, bersihkan muka dengan air bersih,  lanjut segarkan muka dengan penyegar.
   4.   Nah, siap dandan pakai pelembab dan bedak deh 
foto dari : www.sariayu.com/

Ahaai…sekarang, Saya lebih pede dan makin jatuh cinta pada sari ayu, dan percaya deh, enggak ada lagi istilah rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri di mata suami saya, xixixix 

Ohya mengapa saya lalu jatuh cinta sama sari ayu? karena sari ayu terbuat dari bahan berkualitas  dan bahan alami dari tanaman indonesia, yang cocok untuk kulit wanita indonesia.

catatan : tahukah anda, membersihkan muka dengan menggunakan tisu adalah lebih baik dari pada menggunakan kapas.

Minggu, 14 April 2013

Dari Pict.Book Minmie sampai Jalan-Jalan ke Bangkok

Karakter Minmie


Tahu, kan, karakter Minmie? Gadis cantik yang matanya selalu terpejam dengan senyum memikat. Mukanya yang sangat menggemaskan itu memang menjadi daya tarik, membuat banyak yang suka, terutama anak-anak.
Nah, karakter Minmie ini dapat kita jumpai di berbagai produk, terutama tas anak-anak.

Saski, puteri sulung Saya yang berumur 7 tahun, juga suka dengan karakter Minmie. Dia punya beberapa barang bergambar Minmie, seperti tas kecil, sarung bantal dan dompet pensil.
Ternyata, Minmie telah mendapat tempat di hati Saski dan menjadi favoritnya.




Buku Cerita Minmie


Suatu hari di tahun 2012 (apa 2011 ya? Saya lupa persisnya), Saya berkesempatan menulis satu cerita Pictorial Book dengan Minmie sebagai tokoh ceritanya. Tawaran menulis ini Saya dapatkan dari Guru Kelas Ajaib yang juga merupakan Editor in Chief buku anak dan remaja di Mizan Pustaka (Bhai Benny Rhamdani)

Tapi, jangan kira menulis Pict.Book Minmie ini gampang looh! Wuih menulis cerita Pict. Book yang ini tidaklah mudah, karena harus melalui penilaian dan seleksi yang ketat oleh Tim editor Penerbit Mizan.
Lalu, dari beberapa cerita yang dikirimkan, akhirnya satu judul : Minmie's Pastries: Minmie's Chocolate Cookies, pun berhasil lolos.

Yaay senangnya!




Kesempatan ke Bangkok


Ternyata kebersamaan Saya dengan Minmie tidak hanya sampai di Pict. Book saja. Seperti mimpi saja, ketika kemudian di Awal April tahun ini, Saya berkesempatan ke Bangkok, Thailand.
Wuaah....bukankah Minmie lahir di sana? Jadi, Saya akan semakin dekat dengan Minmie dong! Hehehe...

Ini benar-benar pengalaman yang indah. Semua berjalan lancar, dari kemudahan mendapatkan tiket dan mendapatkan teman seperjalanan (Pabers yang asyik dan seru), mendapat izin dari atasan, mendapat restu dari suami, dan yang terpenting anak-anak, keluarga dan Saya sendiri sehat, hingga Saya tak merasa ragu dan cemas untuk berangkat.




Bertemu orang penting di balik karakter Minmie


Hari pertama, baru menginjak di hotel Pinnacle Lumphini, tempat kami menginap, seorang gadis manis yang ceria, menyapa Bhai Benny Rhamdani. Rupanya dia sudah menunggu kami sedari tadi, dan tampak sangat antusias saat kami tiba. Namanya Ms Intira, perwakilan dari Minmie Factory.

Bhai Benny Rhamdani kemudian mengenalkan kami pada Ms Intira. Sikapanya yang bersahabat dan sangat ramah, membuat suasana cair dan penuh tawa.

Saya langsung menyukainya sejak awal bertemu. Ya, dia seperti seorang sahabat yang membentangkan tangannya lebar-lebar dari awal pertemuan.




Bertemu dengan Ms Intira di hari pertama, diakhiri dengan kebaikan hatinya mengantar kami, para cewek2 Pabers, ke Siam Paragon.
Perjalanan yang cukup macet tidak membosankan, karena Ms Intira bersikap seperti tuan rumah yang baik, menjelaskan apa yang kami lihat di sepanjang perjalanan.

Keesokan harinya, ini lebih seru. Ms Intira datang bersama designernya/pencipta karakter Minmie dan Bossnya Minimie Factory. Kami melakukan meeting di Starbucks yang berada di area Book Fair.

Wuihh...mereka sangat antusias saat mengetahui kalau kami adalah penulis cerita anak, dan beberapa di antara kami adalah penulis Pict. Book Minmie.




Dapet Tas Minmie


Inilah saat yang ditunggu.
Hehee.... awalnya sih, kami kecewa, karena keterbatasan waktu, kami tidak jadi ke Pabriknya/perusahaannya Minmie ini. Padahal niatnya mau beli tas di sana hehee.

Tapi ternyataaa, Ms Intira sungguh menghibur hati kami. Dia membawa delapan tas Minmie. Wuaah.....kami sibuk bisik-bisik, rebutan memilih tas, hihihi.....

Kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk minta tanda-tangan dan foto-foto bersama orang-orang penting ini.







Senangnya Saski


Sudah Saya bayangkan, Saski akan bersorak kegirangan melihat tas Minmie. Dan ketika, Saya pulang ke rumah tgl 7 April, acara yang paling menarik adalah buka-buka koper dan bagi oleh-oleh.

Senang rasanya ketika melihat muka cerah Saski saat Saya sodorkan tas keren Minmie.




“Bunda, Saski sukaaa banget!”
“Bundaaaa juga sukaaa. Nanti Bunda boleh pinjam dong.”
“Hehee....boleh, Bund.”
“Asyiik!”

Hihihi......




Semoga bisa ke Bangkok lagi


Saya berdoa, semoga lain waktu Saya bisa ke Bangkok lagi, dan bersama suami, anak-anak dan keluarga ke sana. Aamiin YRA.



Minggu, 24 Maret 2013

Satu Sore di Komplek




(foto dari simplymuslimah24.blogspot.com)


Salah satu kegiatan yang Saya dan keluarga Saya sukai adalah jalan-jalan keliling komplek, masuk keluar cluster, lalu melihat rumah-rumah keren. Iseng saja sih sebenarnya, karena kami memang belum ada rencana membeli rumah baru dalam waktu dekat. Tapi setiap kali ada rumah bagus yang di pagarnya tertulis : Dijual, Saya dan suami selalu antusias untuk mengecek harga dan berandai-andai bagaimana bila kami membeli rumah itu lalu tinggal di sana, hehee….

Tak hanya Saya dan suami, Puteri kami, Saskia (7 thn) tampaknya sangat menikmati acara ‘cari-cari rumah’. Tapi yang paling ia sukai adalah bila kami keliling cluster baru dan mewah dalam komplek yang menjual rumah-rumah dengan harganya membuat mata Saya pasti membeliak lebar. Dan, “Rumah Contoh” yang ada di setiap cluster baru itu boleh dikunjungi, sehingga menjadi satu tempat yang tak pernah kami lewati. Rumah contoh yang lengkap dengan perabotan dan design interior yang keren benar-benar membuat kami terkagum-kagum ketika melangkah masuk ke dalamnya.

Seperti minggu kemarin. Cuaca yang cukup bersahabat, membuat kami (Saya, suami, kak Saski dan De’ Lucky (2 tahun) keluar untuk ‘bermotor-motor sore’ :D Tujuan kami salah satunya ya itu, melihat cluster baru yang sedang membangun rumah-rumah mewah. Pada satu cluster, ada dua rumah contoh berupa bangunan rumah bertingkat yang harganya sekitar 1, 4 M, yang dari luarnya bikin lidah berdecak, sangking Wownya!

Lalu, dengan muka antusias, kami masuk ke salah satu rumah contoh, dengan lagak seperti para calon pembeli rumah. Pendingin udara menyergap tubuh ketika kami memasuki rumah itu. Pandangan Saya lalu menyapu ke sekeliling ruangan yang tanpa sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Interior ruangan menyambut mata Saya dan membuat Saya menahan napas sangking ‘mupengnya” . Saya baru beringsut ketika Saski menarik lengan Saya dan mengajak masuk ke satu kamar tidur yang tampak sangat nyaman.

“Wah, ini bisa jadi kamar tamu,” ujar Saya.

“Kamar Saski juga bisa,” ujar Saski.

Kami tertawa, lalu kemudian keluar kamar dan memutuskan untuk menaiki tangga berlantai keramik, menuju ruang atas. Ada tiga kamar di sana. Berdasarkan furniture dalam kamar, kami lalu ‘sok’ memilih kamar masing-masing. Satu kamar yang luas dengan jendela menghadap ke bagian depan untuk Ayah dan Bunda. Satu kamar bernuansa pink dengan jendela yang sama menampilkan pemandangan ke jalanan depan rumah untuk Kak Saski, dan satu kamar bernuansa hijau dengan jendela yang bila dibuka, kita bisa menikmati taman belakang rumah, untuk Dek Lucky.

“Keren sekaliiii,” cetus Saski riang.

Lucky pun tampak riang sekali mengikuti kami, yang dari celetukan-celetukan kami sungguuh…..benar-benar seperti seperti calon pemilik rumah yang sedang mengecek rumah yang akan ditempati, hehhee

Kunjungan di lantai atas itu, akhirnya disudahi setelah mata kami sudah cukup disuguhi dengan keindahan-keindahan yang membuat impian semakin melambung. Kami lalu turun dan mengecek ruangan dapur, dan beberapa ruangan lainnya di bawah. Rumah contoh ini benar-benar membuat kami tersenyum-senyum, karena membayangkan dan menghayalkan, suatu hari, kami akan mempunyai rumah seperti rumah yang Wow ini.

Setelah puas keluar masuk ruang-ruang di rumah contoh, akhirnya setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga rumah contoh, kami pun pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, saat membuka gerbang dan melangkah masuk ke dalam rumah kami yang mungil, bercat cokelat muda dan kuning, dengan bergurau, Saya pura-pura berdecak kagum.

“Wow, ini rumah contoh yang paling keren. Kita lihat-lihat yuk!”

Saski dengan semangat mengikuti Saya.

“Wah, asyik, Bunda! Di sini sudah ada meja belajar, ada mainan dan buku-buku,” cetus Saski.

“Dan sudah ada ruangan untuk kita tidur-tiduran sambil nonton tivi,” canda Ayah.

Kami lalu masuk kamar Saski dan duduk di atas tempat tidur Saski yang bergambar winnie the pooh.

Tiba-tiba, gambaran rumah contoh yang baru kami kunjungi itu, berkelebat lagi di pikiran Saya.

“Hmm…. enak ya, Kak, kalau rumah kita seperti rumah contoh tadi. Kamar-kamar kita seperti di rumah itu,” ujar Saya pelan sambil bersandar di tumpukan bantal.

Saski tertawa, lalu dia naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring.

“Bun, rumah kita juga bagus. Kamar Kakak juga baguuus banget. Kakak suka di sini,” ujar Saski, cukup mengagetkanku.

“Eh, iya,” ujar Saya.

“Bunda tidak bersyukur yaaa kita punya rumah seperti ini,” lanjut Saski.

Ya Allah…Saya tersentak. Saya dan suami saling berpandang-pandangan. Maluuu rasanya, karena rupanya apa yang Saya ucapkan tadi, ternyata sangaaat jauh dengan apa yang ada di dalam pikiran puteri kami, yang masih sangat belia ini.

Saya tersenyum. Sebenarnya, apa yang Saski ucapkan, adalah apa yang sering Saya katakan padanya dulu. Bila kami melihat rumah yang bagus, dan ketika kami kembali ke rumah, Saya sering mengatakan pada Saski betapa bagusnya rumah kami, dan betapa kami harus selalu bersyukur dengan apa yang kami punya.

Dan, kemarin, sepertinya ketika Saya mengucapkan apa yang kami rasakan, sebenarnya Saya bukan berandai-andai di mata Saski, dan lebih tepatnya seperti mengeluh. Hikss.. Saya sungguh.malu, menyesal dan mohon ampun pada Allah atas apa yang pernah terbersit di kepala Saya.



Tuhan, betapa Saya bersyukur dengan apa yang Saya punya. Mempunyai rumah mungil tapi membuatku sangat bahagia. Memiliki suami yang baik dan kami saling mencintai, dikarunia anak-anak yang soleh dan solehah, pintar dan menggemaskan. Begitu banyak nikmatMu, Tuhan.... semoga kami sekeluarga selalu dalam perlindunganMu selalu.

Saya peluk Saski, dengan mata menghangat. Betapa sesungguhnya, dirimu sangat dewasa, Anakku sayang. Terima kasih sudah mengingatkan Bunda, Nak, untuk selalu bersyukur.


Kamis, 21 Maret 2013

DARI PEMBACA MENTARI IMPIAN

Saya paliiing terharu mendapat apresiasi dari pembaca buku2 Saya.

Beberapa waktu lalu, ada email yang masuk di inbox yahoo Saya. Waah, ternyata dari Pembaca Mentari Impian.

--------------------

Email dari pembaca THC : MENTARI IMPIAN :

Saya sudah membaca novel anda, dan saya rasa novelnya bagus. Meski saya sangat penasaran dengan kelanjutannya. Anda dahulu bercita-cita jadi penulis juga seperti Pasha ya? Ceritanya menarik.
Tokoh Shania dalam cerita ini juga penuh kejutan. Dan yang menarik bagi saya juga ada pada bagian dimana ternyata Shania hanya marah kepada Laura. Itu benar-benar tak terduga.

Saya tunggu balasannya, juga novel terbaru anda.
Mohon maaf saya tak memakai nama asli dan email asli saya.
-- Shina Amanda 11 tahun --

----------------------

Lain waktu, ada pembaca Mentari Impian yang share fotonyanya di Twitter (@cacacola)




-----------------------------

Waah senaangnya Saya.... makasiih banyak untuk Shina dan Chaca

SERI THC : MENTARI IMPIAN



Ini dia novel remaja Saya : Teen HIjabers Comunity (THC) Mentari Impian, Penerbit Dar! Mizan



TEEN HIJABERS COMMINITY : MENTARI IMPIAN, DAR! MIZAN

Pasha tak habis pikir, kenapa Miss Oh Bete begitu membencinya? Sampai berani menyebar fitnah! Apalagi, sejak cerpennya dimuat di majalah remaja. Siapa, sih, Miss Oh Bete itu? Tentunya ada sejarah unik, sehingga dia menyandang nama aneh itu. Penasaran, kan?

Selain itu, sebuah misteri memenuhi pikiran Pasha yang selama ini mengira mamanya telah meninggal. Mieko Masami adalah teka-teki baginya. Pasha pertama kali melihat foto penulis wanita itu di kamar papanya. Kemudian, dia menemukannya lagi di gudang, ruangan yang tak seorang pun boleh masuk ke dalamnya. Apakah ada hubungannya dengan larangan bagi Pasha untuk menjadi penulis?



Novel ini penuh lika-liku dan banyak kejadian mengejutkan. Semoga, pembaca bisa belajar dari ketegaran seorang Pasha!

"Di buku ini, Pasha nggak boleh jadi penulis. Di dunia nyata, kamu nggak boleh melewatkan buku ini. It's a crispy little secret." (Moemoe Rizal, Penulis Satu Cinta SEjuta RePOT)

Selasa, 01 Januari 2013

Lukisan Rasa Di Penghujung 2012 dan Awal 2013

gambar dari : adlnpt.blogspot.com

Lukisan Rasa

Ada berbagai lukisan rasa di hati Saya setiap kali hujan turun. Hujan memberikan keriangan yang riuh, seperti keriangan anak-anak saat rebutan permen cokelat. Hujan memberikan kedamaian, ketika Saya berdiri di balik jendela rumah dan melihat titik-titik hujan seperti tarian peri-peri mungil dari langit. Hujan memberikan sensasi dingin yang mendebarkan, ketika percikannya mengenai kulit muka dan kaki ketika Saya turun dari bus dan berlari cepat ke emperan pertokoan dengan berlindung sebuah payung. Hujan membuat Saya menggigil ketika Saya harus berbasah-basah di atas motor tanpa terbungkus jas plastik, menerobos tirai air demi lekas sampai ke rumah.

Tapi menjadi seperti bagaimana lukisan rasa itu, Saya selalu berharap, hujan tidak memberikan rasa sepi, takut dan suram, pun ketika Saya sedang sendirian, terjebak di bawah hujan. Saya ingin selalu berkeyakinan hujan selalu memberikan rasa damai dan berwarna cerah, walau warna yang dibawa hujan kadang terpulas hitam, putih dan kelabu. Tapi warna itu akan menjelma menjadi pelangi yang indah dalam benak Saya.

Saya menyukai hujan, menyukai aroma yang dibawa hujan, terutama aroma tanah dan rumput yang basah. Saya menyukai suasana ketika Saya berpelukan dengan anak-anak Saya, mengintip dari balik jendela, dan menjulurkan tangan lalu merasakan tetes-tetesnya menyentuh pergelangan dan telapak tangan. Saya mencintai hujan, ketika sepiring martabak manis atau semangkuk tekwan mengepul menjadi makanan yang istimewa di tengah manisnya aroma hujan. Ya, hujan kerap membuat Saya suka cita.

Dan ternyata, menjelang pergantian tahun baru Masehi kali ini juga diwarnai dengan hujan.




Akhir Desember 2012

Sependek ingatan Saya, malam tahun baru sering diwarnai dengan turunnya hujan. Saya lalu berandai, langit menangis karena harus meninggalkan tahun yang telah dilalui. Ya, hanya menangis sesaat lalu kemudian esok harinya bersemangat menyambut hari yang baru dan cerah. Hmm... itu hanya imajinasi Saya saja. Malam tahun baru, seperti apapun cuacanya, tidak pernah berpengaruh untuk Saya. Malam tahun baru membuat Saya senang karena tahun baru adalah hari libur, itu artinya untuk Saya yang bekerja,akan mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga.

Tanggal 31 Desember 2012. Saya dan suami libur kerja. Seperti janji Saya pada anak perempuan Saya, Kak Saski (7 th), kami akan bermain air di water world. Tempatnya tidak jauh, masih di dalam komplek perumahan tempat kami tinggal. Senangnya, anak laki-laki Saya, adek Lucky (2 th), yang beberapa waktu sebelumnya terkena flu dan batuk, hari itu sudah sehat.

Beberapa hari sebelumnya, Saya dan Mama Novia (orang tua teman Saski) telah sepakat untuk bermain air bersama di water world. Mengetahui temannya akan ikut serta, Saski merasa lebih antusias. Ia sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke water world dari subuh. Padahal kami baru akan berangkat pukul delapan kurang. Ah, melihat kegembiraan dan semangatnya, hati Saya merasa begitu lega.

Pukul delapan, kami berangkat. Saya, suami, Kak Saski, dek Lucky, Ibu (yang mengasuh anak-anak Saya ketika Saya harus kerja) dan Teteh (yang bekerja di rumah) semuanya turut serta. Sesampai di sana, masih sepi dan bagian loket belum dibuka. Kami menunggu beberapa menit saja, untuk kemudian mendapat karcis, lalu masuk ke dalam dan siap berganti pakaian, lalu bermain air.

Mama Novia, Novia dan adiknya, Iqbal, menyusul kemudian. Saski sudah tidak sabar saja nyemplung ke air. Lucky tampak antusias, tapi kemudian, entah kenapa, dia merasa takut dan tidak mau turun dari gendongan. Saya dan suami sudah membujuk, tapi Lucky mungkin masih asing dengan suasana di sana. Ia masih bertahan untuk tidak berlama-lama di dalam air.

Menyenangkan memang bermain air. Apa lagi, udara ketika itu masih segar, dan matahari belum terik. Kami berenang, bermain ban, main perosotan dll. Beberapa saat kemudian, Saya lebih banyak duduk-duduk di kursi di dekat kolam, menemani Lucky yang sudah berselimut kimono. Lucky bilang ke Saya kalau dia merasa dingin dan masuk angin. Saya tahu itu hanya alasan Lucky karena tidak mau Saya ajak nyebur ke kolam, hehehe.....Tak berapa lama kemudian, satu persatu naik dari kolam, menikmati pop mie yang masih mengepul, dan kami lalu menunggu kak Saski, Novia dan Iqbal yang masih terus asyik bermain.

Matahari sudah menyengat ketika kami memutuskan untuk pulang ke rumah sebentar, lalu lanjut untuk belanja di sebuah supermarket di dekat rumah dan makan siang. Sepanjang siang dan sore itu, rasanya senang sekali mengisi waktu bersama anak-anak.


Malam Tahun Baru

Seperti biasa, bagi Saya, malam tahun baru sama saja seperti malam-malam hari libur. Tapi kali ini, Saski merasa senang karena Novia akan menginap di rumah. Karena Saya tidak bisa cuti selama Saski dan Lucky liburan sekolah, rasanya menciptakan rasa “liburan” yang sederhana begitu menyenangkan untuk Saya dan anak-anak.

Gerimis mewarnai sore dan hingga hampir pukul sembilan. Tadinya, kami ingin keluar sebentar, melihat keramaian di dalam komplek, tapi gerimis membuat Saya dan keluarga lebih memilih di dalam rumah. Baru hampir pukul sembilan, Saya dan suami keluar sebentar, untuk membeli nasi goreng tak jauh dari rumah, dan ternyata, hujan gerimis menjadi cukup deras mengguyur komplek perumahan Saya. Sambil menunggu nasi goreng pesanan, mata Saya berputar. Ramai, gembira, dan tawa tertangkap di mata Saya, di sela-sela gemuruh petasan dan kembang api yang sungguh terdengar berisik.

Tak banyak yang kami lakukan di malam tahun baru, hanya mengobrol, bercanda, menonton televisi, makan dan tidur. Tidak ada jagung bakar, apa lagi ikan dan ayam bakar (Saya memang tidak berencana untuk bikin acara bakar2an :D). Anak-anak pun sudah tidur ketika jarum jam merayap ke pukul sepuluh. Saya dan suami masih menonton televisi, sedang di luar suara petasan dan kembang api masih terus bersahut-sahutan.

Pukul dua belas malam, petasan makin menjadi-jadi, seperti tak ada putus-putusnya. Saya menyibak jendela dan mengintip keluar. Di luar, Saya lihat beberapa tetangga keluar rumah untuk melihat percikan kembang api seolah menjangkau langit. Dek Lucky rupanya terbangun, dan lalu bertiga, kami ke teras rumah, menyaksikan pijar kembang api yang tampak seolah dari empat penjuru mata angin. Di bagian timur, barat, utara dan selatan. Benar-benar seperti perang kembang api saja.



foto : anak2 sholat berjamaah, liburan yang banyak main tapi engga lupa sholat, Alhamdulillah :)


Tahun Baru 2013

Mengisi tahun baru kali ini pun lagi-lagi di rumah saja. Hari pertama di tahun 2013 berjalan seperti biasa. Tapi apapun yang kami lakukan di hari itu, di awal tahun baru, Saya berharap selalu ada percikan semangat di setiap langkah Saya dan keluarga, apapun yang kami lakukan selalu membawa berkah. Ya, impian yang indah selalu bersemayam di hati kami dan terlontar di setiap bisikan doa yang kami panjatkan pada Allah SWT.

Hari itu, untuk menghibur dan bermain dengan anak-anak, Saya dan suami mengadakan Pencarian Jejak. Kami menuliskan banyak petunjuk di beberapa kertas yang kemudian kami sembunyikan di berbagai tempat. Anak-anak kemudian ditantang untuk menemukan harta karun yang tertulis di kertas terakhir. Wah, Saski, Novia, Iqbal dan bahkan Lucky sangat antusias. Pencarian jejak pertama berlangsung di dalam rumah karena di luar sedang gerimis. Dan pencarian jejak kedua pun berhasil kami adakan di luar rumah.

Awalnya Saski dan Novia kesulitan memecahkan rahasia tempat tujuan yang harus mereka cari, tapi kemudian mereka bisa semakin cepat memecahkan misteri di mana harta karun tersembunyi itu hehehe. Dan ketika mereka menemukan kertas terakhir, mereka sungguh suka cita, walaupun harta karunnya hanyalah sebuah pilihan : Cokelat atau Es Krim. Anak-anak sepakat untuk memilih es krim. Permainan berlangsung sampai siang saja, karena lepas zuhur Novia dan Iqbal pulang ke rumahnya. Saski dan Lucky tidur-tiduran di depan televisi lalu benar-benar tertidur pulas sampai sore.

Anak-anak bergembira, itu sungguh membuat Saya bahagia.

