Rabu, 26 Desember 2012

Ketika Waktu Terasa Cepat di Payung Sekaki


Pakanbaru. Menurut sejarah, dulunya Pakanbaru adalah sebuah perkampungan yang bernama Payung Sekaki yang berada di tepian Sungai Siak, yang kemudian lebih dikenal dengan nama kampung Senapelan. Senapelan adalah nama suku yang membangun dan mendiami perkampungan Payung Sekaki ini. Kampung Senapelan kemudian menjadi pusat kerajaan di masa Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Di tahun 1784, Kampung Senapelan berganti nama menjadi Pakanbaru. Dan setelah melalui waktu yang sangat panjang, di tahun 1959, Pakanbaru menjadi ibu kota Propinsi Riau.

Membaca sejarah tentang Pakanbaru, membangkitkan harapan Saya untuk bisa meluangkan waktu ke Pakanbaru dan kemudian menyusuri Sungai Siak dan sepenjuru Pakanbaru. Makanya, ketika Saya kemudian mendapat kesempatan (lagi) ke Pakanbaru di bulan November 2012, sempat terlintas dalam pikiran Saya adalah mendatangi tempat-tempat yang menjadi bagian Sejarah Pakanbaru di masa lalu. Saya juga ingin sekali mengunjungi masjid Raya Pakanbaru yang merupakan Masjid tertua di Pakanbaru dan dan Masjid Annur yang lokasinya berada di pusat kota.



Lalu, apakah impian Saya itu terwujud? Hmm.... lagi-lagi, untuk ketiga kalinya Saya mendatangi Pakanbaru, tempat-tempat itu tidak terpijak oleh Saya. Karena keterbatasan waktu, Saya hanya menikmati Pakanbaru secara sekilas saja. Tapi, tentu saja Saya tetap merasa suka cita.






Bepergian bersama tiga orang perempuan yang kesemuanya hobi belanja, maka satu tempat yang paling ingin dikunjungi bersama adalah tempat belanja. Maka, Pasar bawah yang terletak di sebelah utara Pakanbaru ini menjadi pilihan kami secara bulat, mufakat dan secara bebas tanpa paksaan hahaha....

Saya ingat, ini ketiga kalinya Saya ke Pasar Bawah. Ingatan itu lalu menjelma menjadi berbagai aksesoris, keramik, tas, karpet, guci, pakaian, patik, makanan khas Riau seperti lumpok dll. Dan benar saja, Pasar Bawah ternyata mengalirkan semangat belanja yang luar biasa pada teman-teman Saya. Saya sih hanya ikut-ikutan saja, membeli dan menikmati orang-orang yang senang berbelanja :D

Selesai keliling di bagian atas, teman Saya (Woro) tak bisa menahan diri untuk tidak menjamah ke area penjual ikan salai dan ikan asin. Ikan bilis menjadi target utama. Wuah.... aroma ikan yang kuat langsung menyerbu hidung Saya. Tapi demi melihat ikan-ikan yang jarang Saya temui di Tangerang (tempat tinggal Saya), Saya terenyuh juga untuk membeli barang beberapa kilo. Tidak banyak, cukup untuk menuntaskan rasa penasaran dari pada tidak membeli hehehe



Mungkin, Pasar Bawah menjadi tempat terlama Saya dan teman-teman menghabiskan waktu di Pakanbaru, selain di Hotel tentunya. Kami menginap di Swiss-Belhotel Ska, yang merupakan hotel bintang 3, terletak di dalam kawasan Mal Ska yang berada di daerah strategis. Menginap dua malam di hotel yang nyaman ini, tentu saja menyenangkan hati Saya.

Dan ketika pada waktunya, kami harus pulang, dan menjejakkan kaki di Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, saya berdoa, suatu ketika bila Saya mempunyai kesempatan datang ke Pakanbaru, maka menyusuri sungai Siak dan tempat-tempat sejarah di Pakanbaru akan Saya tunaikan, tidak melulu ke Pasar Baru saja. Semoga Aamiin YRA.

Yakinlah! Kau Pasti Bisa!

Masuk di Antologi Sekolah Kehidupan (Tahun 2007)



gambar aq ambil dari http://ceritaiiresmana.files.wordpress.com/2012/08/483054-i09y8s1.jpg


Dulu sekali, seorang teman pernah datang ke rumahku sambil berlinang air mata. Tentu saja aku bingung dan tak tahu harus gimana karena ketika itu aku pun masih kecil, baru duduk di bangku SD. Untung ada ibu yang bertanya dan menasihati. Temanku bilang dia sedih sekali karena tidak diizinkan ibunya untuk mengikuti les vocal di sekolah. Alasannya, karena menurut ibunya, suara temanku tidak merdu sehingga tidak perlu buang uang dan waktu cuma untuk latihan vocal.

Saat itu aku cuma tertawa saja mendengar alasan yang lucu menurutku . Tapi ibu dengan lembutnya berjanji akan mencoba membicarakan keinginan temanku ini dengan ibunya. Aku memandang ibuku, bangga dan bahagia karena ibuku tidak pernah melarang aku untuk ikut kegiatan apa pun yang aku suka. Tentu saja untuk kegiatan yang baik dan bermanfaat.

Orang tuaku memang selalu mendukung dan memberi semangat setiap impianku. Ketika masih di bangku Taman Kanak-kanak aku memang nakal sekali. Bajuku selalu kotor setiap aku pulang sekolah. Apa lagi saat aku dan teman-temanku sedang keranjingan bermain tanah liat. Tanah liat itu kami bentuk menjadi piring, gelas, vas bunga, dan apapun sesuai yang ada di dalam imajinasi kami. Bila anak-anak lain dimarahi orang tuanya karena bermain tanah karena mengotori pakaian mereka, ibu dan ayahku malah tersenyum melihat ulahku bahkan ayah membuatkan aku lemari susun dari kotak kardus untuk memajang hasil karyaku.

Ketika baru masuk sekolah Dasar, ibu memasukkan aku les mengaji di Masjid dekat rumahku. Suatu hari dalam rangka Nuzulul Qur¢an, ada lomba mengaji untuk anak-anak seusiaku. Aku ingin ikut lomba tapi aku takut sekali tampil di depan umum. Ibu menciumku dan berkata : Ibu Yakin, Kau Pasti Bisa. Dan aku pun berani.


gambar dari :http://pixi-san.deviantart.com/art/Semangat-118618076


Ketika aku sudah lebih besar, aku ingin sekali menjadi penyanyi. Padahal suaraku tidak merdu dan aku tidak bisa bernyanyi indah. Tapi ibu dan ayahku tidak pernah mengecilkan harapanku. Ketika aku bilang aku ingin jadi penyanyi, ibu dan ayah memberi kesempatan padaku untuk bergaya dan bernyanyi di depan mereka. Ibu bertepuk tangan dan memuji kalau suaraku bagus sekali. Ayah menantangku apakah aku berani bila menyanyi di depan para tamu dalam acara arisan keluarga yang akan diadakan di rumahku esok harinya. Ketika aku ragu dan malu, ayah dan ibu membisikiku : Yakinlah, Kau Pasti Bisa! Dan aku pun tertantang.

Setelah meranjak remaja aku sadar kalau aku tidak berbakat menyanyi. Suaraku fals dan aku tidak ingin lagi jadi penyanyi. Tapi aku pun punya cita-cita lain. Aku ingin jadi penari dan pelukis. Ayah pun mengizinkan aku untuk ikut les menari dan melukis di sekolah. Aku berusaha sungguh-sungguh dan sering memperagakan pelajaran menari di depan ibu dan memperlihatkan hasil lukisanku pada ayah. Ayah dan ibu memujiku kalau mereka bangga padaku dan akan senang sekali kalau aku terus belajar dan berkarya untuk terus memperbaiki kemampuanku. Dan aku pun berjanji untuk terus belajar. Ketika ada lomba melukis di sekolah aku ingin sekali ikut serta tapi sekali lagi aku ragu. Ayah dan ibu memelukku dan berkata : Yakinlah, Kau pasti Bisa! Dan aku pun berani ikut lomba walau tidak juara sama sekali.

Sampai aku duduk di bangku SMA, aku telah bisa menata apa keinginanku dan bagaimana kemampuanku. Aku sudah tidak tertarik lagi dengan melukis dan menari. Aku tahu aku tidak berbakat menari karena lukisanku tidak indah dan hidup. Dan aku tidak suka menari karena badanku ternyata tidak lentur dan luwes. Tapi aku punya impian lain. Aku ingin jadi penulis. Dan ayah mendukungku. Ayah memperbolehkan aku menggunakan mesin tik miliknya.

Dari sanalah hari-hariku selalu penuh imajinasi. Aku suka membuat puisi, artikel dan cerita pendek. Ayah adalah orang pertama yang membacanya. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan ayah tentang ide menulis ditemani teh hangat dan makanan kecil yang dipersiapkan oleh ibu khusus untukku. Ayah menyemangati aku untuk memberanikan diri mengirim tulisan ke majalah dinding di sekolahku. Aku tertarik dan mencoba usul ayahku. Sungguh menyenangkan ketika setiap minggu selalu ada tulisanku yang nangkring meskipun hanyalah majalah dinding sekolah. Ayah dan ibukulah yang terus memotivasi aku, merayakan bersama ketika aku menjadi juara menulis mading dan memberi semangat ketika akupun akhirnya menjadi redaktur majalah dinding di sekolahku.

gambar dari : http://maritsaniswah.blogdetik.com/2011/04/09/indahnya-semangat/semangat/


Ketika akan masuk Perguruan Tinggi, ayah dan ibu memberikan kebebasan untukku menentukan fakultas mana yang aku ingini. Aku tertarik masuk Fakultas Hukum karena aku ingin menjadi Notaris atau pengacara seperti teman ayahku. Ayah dan ibu mendukung impianku. Tapi rasa khawatir menyergaapku, mampukah aku di fakultas hukum? Ayah dan ibu bilang, Yakinlah, kau pasti bisa!

Yakinlah, kau pasti bisa! Kata-kata itulah yang selalu diucapkan ayah dan ibuku bila aku ragu dan takut. Kata-kata yang selalu tertanam di hatiku dan akan kupegang bila aku takut tenggelam dalam menentukan langkah hidupku. Kata-kata yang menyemangatiku sampai aku diterima kerja di tempat yang aku inginkan. Kata-kata yang mengingatkan aku ketika aku ragu memutuskan untuk menikah. Kata-kata yang menghiburku ketika dulu aku ragu apakah aku akan menjadi seorang istri dan ibu yang baik.

Yah, Yakinlah, kau pasti bisa! Kata-kata itu semoga kelak bermanfaat untuk anak-anakku nanti. AMIN.

—-Ditulis oleh Dewi Cendika ZR
Dimuat di majalah Bravo!

Aku copas dari : http://erlanggaforkids.com/read-a-story/37-read-a-strory/152-di-negeri-awan-putih.html




“Liburan sekolah, tapi kita tidak ke mana-mana ya, Vanya,” ujar Athara.
“Kamu ada usul, Athara?” tanya Vanya.
“Liburan di Negeri Awan Putih, yuk?” tanya Athara.
Vanya sudah lama sekali ingin ke Negeri Awan Putih. Kata Athara, semua benda di sana berwarna seputih awan putih.
“Aku mau! Boleh aku mengajak Diandra dan Charlotta?”
“Tentu boleh,” ujar Athara sambil tertawa geli.
“Asyiikk!” Vanya menghambur memeluk Athara.
Menggembirakannya lagi, Mama mengatakan kalau ia akan membuat banyak kue lezat. Asyik!

Benar kata Athara, Negeri Awan Putih dipenuhi dengan benda-benda yang semuanya berwarna seputih kapas.
“Nah, itu kolam pemandian Negeri Awan Putih. Airnya dapat membuat kulit peri Negeri Awan Putih menjadi lembut,” ujar Athara.
“Pasti rasanya seperti berendam di kolam susu,” ujar Diandra.
“Aku ingin mandi di sana,” kata Vanya.
“Kalian tidak boleh mandi di sana. Kalau mau, di rumahku ada pancuran air putih segar. Disanalah tempat para peri Negeri Awan Perak boleh mandi,” tegas Athara.
“Kenapa tidak boleh ya?” pikir Charlotta dalam hati.

Selama tiga hari berada di Negeri Awan Putih, Vanya, Charlotta dan Diandra merasa sangat betah. Mereka menyukai pohon-pohon berdaun putih di hutan dan mendatangi banyak pesta.
“Aku masih ingin sekali mandi di kolam pemandian Negeri Awan Putih,” cetus Charlotta.
“Tapi Athara melarang kita, Charlotta,” Diandra mengingatkan.
“Jangan-jangan Athara hanya mengarang alasan saja,” kata Vanya.
Vanya setuju walau Diandra berusaha mencegah rencana Charlotta.
Sore harinya, saat Athara sedang tidur pulas, Vanya dan Charlotta pergi ke kolam pemandian Negeri Awan Putih. Diandra terus mengingatkan larangan Athara pada Vanya dan Charlotta sambil mengikuti mereka dari belakang.
“Wow, airnya sungguh segar!” seru Charlotta. “Athara telah membohongi kita.”
Diam-diam, ia lalu pulang ke rumah Athara dan memberi tahu Athara kalau kedua temannya asyik bermain di kolam pemandian.
“Hah? Ayo, cepat, kita harus menolong mereka,” ujar Athara sambil menarik lengan Diandra.
“Kenapa harus menolong mereka?”tanya Diandra.
“Nanti kau akan tahu,” jawab Athara.




Betapa kagetnya Diandra, saat tiba di kolam, tampak Vanya dan Charlotta membeku seperti es. Athara segera melepas bajunya dan menarik Vanya dan Diandra keluar dari kolam.
Athara mengusap-ngusap tubuh Vanya dan Charlotta dengan gumpalan awan putih ajaib yang mengandung rasa hangat.
“A…ir…nyaa… di…ngin… se…kaa…liii,” ujar Vanya lirih.
“Aku sudah mengingatkan kalian. Kolam itu khusus untuk peri Negeri Awan Putih karena airnya dingin sekali,” tukas Athara kesal.
“Maaf…,” ujar Charlotta menyesal.
“Ayo, sekarang kalian berganti pakaian dan pulang ke rumah. Mama telah membuat sup hangat terlezat,” kata Athara.

Kali ini, Vanya, Charlotta dan Diandra tersenyum senang.

Oleh: Dewi Cendika



Komentar dari pembaca :

bintang Aulia yasmin 2012-08-05 12:19 #2
:-) dari dulu paling suka sama cerita...
sampe sekarang... ceritanya bagus...
apalagi gambarnya
suka deh :zzz :lol: :D

dameria 2012-07-20 03:53 #1
wah ceritanya bagus,.. makasih Kak,.. :-)

Serial Vanya : Tugas Dari Tuan Aro


Dimuat di majalah Bravo :)

Aku copas dari : http://erlanggaforkids.com/read-a-story/37-read-a-strory/154-tugas-dari-tuan-aro.html



Vanya dan Charlotta mendapat tugas penting dari Tuan Aro, Peri Air Hujan. Tuan Aro meminta bantuan mereka untuk membawa sekantung air ke Negeri Peri Dongeng yang sedang mengalami kekeringan air.

“Cukup percikkan air di sungai yang kering, di hutan yang gundul, dan di atas Negeri Peri Dongeng yang gersang, maka hujan akan turun,” pesan Tuan Aro.
Vanya dan Charlotta pun tampak bersemangat. Ini pengalaman pertama mereka membantu Tuan Aro.
“Tapi bagaimana kami bisa turun ke Negeri Dongeng itu?” tanya Charlotta.

“Kalian boleh naik gelembung air raksasaku.”
Rupanya Tuan Aro baru saja mendapat hadiah dari Ratu Ondetta, yakni gelembung air raksasa yang menyerupai bola kaca raksasa. Tuan Aro lalu mengajarkan cara kerja gelembung air raksasa.

“Hati-hati ya. Ingat, setelah tugas kalian selesai, segeralah kembali,” pinta Tuan Aro.
Vanya dan Charlotta mengangguk. Mereka duduk di sebuah gelembung air yang berfungsi sebagai bangku. Vanya lalu menekan sebuah tombol dan gelembung air melayang ringan di udara.

“Itu Negeri Peri Dongeng yang mengalami kekeringan, Van

ya!” seru Charlotta sambil menunjuk ke sebuah negeri yang tampak gersang.
Vanya mengangguk. Ia segera menekan tombol gelembung air dan mengarahkan posisi gelembung raksasa untuk mendarat di Negeri Dongeng.
“Kasihan peri-peri di sini, mereka harus berbagi air dari sumur itu,” bisik Vanya, saat melihat beberapa peri sedang bergerombol di dekat sebuah sumur.
“Ayo, Vanya, saatnya kita bekerja sekarang,” ajak Charlotta.

Mereka berdua mulai memercikkan air dari dalam kantung yang dititipkan Tuan Aro pada mereka. Mereka memercikkan pepohonan, dua sungai kecil, dan beberapa sumur kering.
“Nah, tinggal setengah kantung air. Kita tumpahkan saja airnya, supaya peri Negeri Dongeng tidak akan kekurangan air lagi,” ujar Vanya.
“Tapi, kata Tuan Aro, kita hanya perlu memercikkan sedikit air saja, Vanya. Tapi ya sudahlah,” ujar Charlotta.


Vanya dan Charlotta lalu melesat terbang ke atas dan bersiap-siap menumpahkan setengah kantung air dari Tuan Aro.
Tess… tesss… tess. Air hujan turun ke Negeri Dongeng. Peri-peri dongeng tampak menengadahkan kepala dan bersorak gembira. Mereka berjingkrak-jingkrak dan menampung air hujan ke dalam bak yang telah lama kosong.

Vanya dan Charlotta pun ikut senang. Mereka menunggu sampai hujan reda dan baru akan segera kembali ke Negeri Awan Perak. Namun, hingga tiga jam hujan tak juga reda. Air sungai tampak meluap dan jalanan digenangi air. Pasti gara-gara Vanya menumpahkan sisa air di kantung. Vanya tertunduk menyesal.
Setelah hampir dua jam, banjir tampak menyusut. Charlotta bersandar di dalam gelembung air dengan muka letih. Saatnya kembali pulang.
“Charlotta, aku akan menjelaskan pada Tuan Aro dan meminta maaf padanya,” ujar Vanya.

“Tidak, Vanya. Kita berdua yang salah dan aku juga akan meminta maaf pada Tuan Aro,” sela Charlotta.
Vanya mengangguk. Senang hatinya memiliki sahabat yang setia kawan seperti Charlotta. Vanya berjanji, ia tak akan melakukan kesalahan seperti tadi lagi.





SERIAL VANYA : PESTA ISTANA

Telah dimuat di majalah Bravo!

Aku copas dari : http://erlanggaforkids.com/read-a-story/37-read-a-strory/165-pesta-istana-ratu-ondetta.html




Mama membawa kabar gembira sepulang dari istana. Kabarnya, Ratu Ondetta akan mengadakan pesta bagi para peri. Di pesta itu, para peri boleh unjuk kebolehan seperti menari, menyanyi atau apa saja.

“Wah, aku ingin menyanyi, siapa tahu aku akan menjadi salah satu penyanyi istana. Kalau kamu?” cetus Athara kepada Vanya.

Vanya menggeleng.

“Aku ingin menari, tapi kakiku kan masih sakit karena tersandung akar pohon kemarin,” ujar Vanya sedih.

“Jangan sedih, kita membuat kue-kue enak saja yuk?” hibur Mama Vanya.

Vanya mengangguk setuju. Tentu saja, membuat kue merupakan salah satu kesenangan Vanya. Tapi tetap saja hatinya sedih karena tidak menampilkan pertunjukan apa pun.

“Pasti menyenangkan sekali bisa memainkan musik atau menari di hadapan Ratu Ondetta,” pikir Vanya.

Tes… tes… tes….

Tiba-tiba hujan turun. Vanya segera berlari ke beranda rumah dan melihat hujan turun dari gumpalan awan perak.

“Hore, sebentar lagi akan ada tangga warna-warni!” seru Vanya.

“Vanya, hati-hati. Kakimu masih sakit, jangan loncat-loncat ya!” seru Mama.

“Hai, Vanya!” Ada yang menyapa Vanya. Itu Charlotta.

“Hei, Charlotta! Diandra kok tidak keluar rumah, ya?” tanya Vanya.

“Diandra sedang berlatih main piano, untuk persiapan pesta di istana Ratu Ondetta nanti.”

“Hebat ya, Diandra, pintar main piano,” puji Athara.

“Hihihi…tentu saja, tidak seperti Vanya yang pintarnya meniup harmonika saja,” seseorang meledek Vanya.

Vanya menoleh ke belakang. Mukanya merah padam saat mengetahui siapa yang meledeknya. Rinkel, peri paling jahil di Negeri Awan Perak.

“Hahaha… jangan marah, Vanya,” goda Rinkel sambil tergelak.

Vanya cemberut. Ia menghentakkan kakinya lalu berlari pulang ke rumah.

Di dalam kamarnya, Vanya merasa gelisah. Ia ingin ke luar dan bermain lagi, tapi ia malas bertemu Rinkel.

“Ah, apa salahnya kalau pintar meniup harmonika?” pikir Vanya lalu berjalan menuju ke meja belajarnya. Sebuah harmonika mungil tergeletak di atas meja. Harmonika itu adalah pemberian Monita, sahabatnya dari negeri bulan. Monita juga yang mengajari Vanya memainkan beberapa lagu dengan harmonika.

Vanya meraih harmonikanya dan meniupnya pelan. Ia memainkan satu lagu kesukaan Monita, judulnya Peri-peri Bulan yang Riang. Saat meniup harmonikanya, tubuh Vanya ikut bergerak lincah.

“Hihihi… tuh kan, pintarnya main harmonika saja!”

Vanya menoleh dan kesal saat mengetahui ada Rinkel berdiri di beranda kamarnya. Vanya menyesali dirinya yang lupa menutup jendela kamar.

“Hihihi… tanpa kamu sadari, aku meniupkan angin waktu kau meniup harmonika tadi. Tiupan harmonikamu tentu saja terbawa angin ke setiap rumah di Negeri Awan Perak. Hahaha!” Rinkel tambah terbahak.

Vanya marah dan bergegas menutup jendela kamarnya dengan hati gemas bukan main pada Rinkel.

Keesokan harinya, mama membawa kabar mengejutkan untuk Vanya.

“Vanya, Ratu Ondetta ingin kau memainkan harmonika di pesta istana nanti,” mama memberi tahu Vanya.

“Benarkah? Dari mana Ratu Ondetta tahu Vanya bisa meniup harmonika?” tanya Vanya bertubi-tubi.

Mama terkekeh.

“Semua kan mendengar permainan harmonikamu kemarin, Vanya,” ujar mama, ”Bibi Perajut memberi tahu Ratu Ondetta kalau kamulah yang meniup harmonika itu.”

Vanya terbelalak tak percaya. Dia teringat Rinkel. Astaga! Akibat keisengan Rinkel, Vanya justru mendapatkan keberuntungan.

Mama tertawa melihat tingkah Vanya yang lucu.

“Nah, mainkan harmonikamu dengan bagus ya, Vanya,” Mama menyemangati Vanya.

Vanya mengangguk. Tentu saja ia akan berusaha menampilkan yang terbaik. Ia akan tampil memukau dengan harmonikanya besok, di pesta istana Ratu Ondetta.

Serial Vanya di Majalah Bravo : Vanya Tersesat

Ini ceritaku yang dimuat di majalah Bravo! Aku copas dari
http://erlanggaforkids.com/read-a-story/37-read-a-strory/162-vanya-tersesat.html





Vanya senang bila hujan turun. Itu pertanda akan muncul tangga tujuh warna yang menghubungkan Negeri Awan Perak dan Bumi. Setiap anak tangga tujuh warna itu terbuat dari tujuh helai selendang rajut berwarna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu yang panjang sekali. Bagi orang-orang yang berada di Bumi, tangga tujuh warna itu mereka sebut dengan pelangi.

Ketika tangga tujuh warna itu muncul, siapa pun yang tinggal di Negeri Awan Perak diperbolehkan untuk mengunjungi Bumi sejenak. Begitu pula dengan Ratu Negeri Awan Perak yaitu Ratu Ondetta.

“Vanya, pakai mantel yang tebal dan lekas masuk!” seru Mama dari dalam rumah.

“Iya, Ma,” sahut Vanya. Tapi Vanya tidak segera mengambil mantel. Ia malah asyik duduk di kursi berbentuk bunga di beranda atas rumahnya.

“Vanya!” terdengar ada suara yang memanggilnya dari lantai bawah. Oh, rupanya Diandra dan Charlotta yang akan menuruni tangga tujuh warna .

“Ayo, kita main ke Bumi!” ajak Charlotta yang berambut pendek itu dengan gembira.

Vanya tidak menunggu lebih lama. Ia segera meloncat dari beranda rumahnya dan jatuh tepat di anak tangga tujuh warna .

“Astaga, Vanya, kau berani sekali!” seru Diandra kaget, “semestinya kau turun dulu dari beranda, kami kan bisa menunggumu!”

Vanya tersenyum, “aku sudah tidak sabar ingin bermain di Bumi.”

Diandra dan Charlotta menggeleng-gelengkan kepala. Mereka sudah tahu persis sifat sahabatnya.

Dengan bersenandung riang, mereka menuruni anak-anak tangga sampai ke sebuah danau yang indah di balik bukit hijau. Di sana, sudah banyak teman-teman peri awan perak yang sedang bermain di danau. Ada juga yang sedang berlari-larian di sela-sela pohon yang tinggi.

“Kita mandi di danau itu yuk,” ajak Diandra.

Charlotta setuju tapi Vanya menggeleng, “aku kedinginan, aku lupa membawa mantel,” kata Vanya,” aku mau memetik bunga mawar hutan saja ya.”

“Ya sudah, nanti tunggu kami di pinggir danau itu ya,” ujar Charlotta.

Vanya mengangguk. Dia sudah tidak sabar ingin memetik bunga mawar yang harum dan cantik untuk menghiasi rumahnya. Mama pasti gembira kalau aku bawakan sekeranjang bunga mawar, pikir Vanya gembira. Lalu, Vanya asyik memetik bunga-bunga mawar. Tanpa ia sadari, ia sudah terlalu masuk ke hutan.

“Ooow… aku lupa jalan pulang,” tiba-tiba Vanya tersadar dan panik. Di depannya terdapat jalan bercabang dua, “aduh, aku mesti memilih jalan yang mana?”

Vanya memilih jalan yang ke kiri. Tapi semakin jauh ia melangkah, hutan semakin rimbun. “Sepertinya bukan ini jalannya,” pikir Vanya lalu berbalik dan mengambil jalan yang ke arah kanan.

Hari sudah gelap ketika Vanya tiba di pinggir danau. Diandra, Charlotta, dan teman-teman dari Negeri Awan Perak sudah tidak kelihatan. Rupanya mereka sudah pulang ke Negeri Awan Perak dan Vanya tinggal sendirian di Bumi.

Vanya menangis tersedu-sedu di pinggir danau. Badannya menggigil karena udara yang semakin dingin. Suasana di sekitarnya mulai gelap. Vanya duduk di bawah pohon besar dan merapatkan tubuhnya yang semakin dingin di batang pohon.

“Aku tak akan bertemu dengan Mama dan Papa lagi,” isak Vanya, ”aku menyesal karena lupa waktu saat bermain.”

Akhirnya Vanya tertidur karena kelelahan. Vanya tidur meringkuk dan pipinya terasa beku.

“Vanya…. bangun!”

Vanya gelagapan. Ada sesuatu yang mengguncang bahunya. “Toloongggg!” jerit Vanya spontan.

“Hei, Vanya, ini Mama!”

Vanya membuka mata. Tampak wajah Mama sedang menatapnya. Vanya menoleh ke kiri dan kanan. Suasana memang agak gelap, tapi ia berada di beranda rumahnya.

“Mama!” teriak Vanya gembira sambil merangkul Mama, “Mama menemukan Vanya di tepi danau, ya?”

Mama tersenyum, “pasti Vanya mimpi, ya?” tanya mama, ”kamu itu tertidur di beranda. Tubuhmu dingin sekali Vanya, kamu tidak pakai mantel!”

Vanya tertunduk malu. Tiba-tiba, uhuk... uhuk… hatchii….!” Vanya bersin dan terbatuk-batuk.

“Nah, ayo masuk ke kamar. Udara sudah terlalu dingin dan kamu tidak memakai mantel,” perintah Mama.

Vanya tersenyum. Ia lega karena kejadian tadi itu hanyalah mimpi. Namun, setidaknya mimpi itu bisa mengingatkan Vanya kalau ia harus lebih berhati-hati ketika ia turun ke Bumi dengan tangga tujuh warna.

Oleh: Dewi Cendika